Iffah Nurkhalifah: Filsafat Dakwah "Ontologi, Epistimologi, Aksiologi"


Ontologi Dakwah
Yakni berbicara tentang “ke-apa-an” dakwah. Sehingga timbul pertanyaan apakah dakwah itu? Maka pertanyaan ini mengacu pada definisi atau terminologi. Di bawah ini beberapa definisi tentang dakwah.
Dakwah Islam merupakan aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia, pada dataran kenyataan individual dan sosio-kultural, dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan manusia, dengan menggunakan cara tertentu.[1]
Dakwah adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja dengan mengerahkan segala potensi yang dimiliki, baik secara individual maupun bersama-sama, untuk:
a.       Mengajak orang pada ajaran Islam (masuk ke dalam al-Islam bagi mereka yang belum menjadi muslim).
b.      Meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam (bagi kaum muslimin dalam seluruh tatanan kehidupan dan melaksanakan amar maruf nahyi munkar).[2]
Dakwah adalah sistem dalam menegakkan penjelasan kebenaran, kebaikan, petunjuk ajaran, memerintahkan perbuatan ma’ruf dan mengungkap media-media kebatilan dan metode-metodenya dengan macam-macam pendekatan, metode dan media dakwah.[3]
Epistimologi Dakwah
Epistimologi mencakup “how to” dakwah atau mempelajari dakwah. Yakni cenderung ke arah metode yang dilakukan untuk berdakwah dan cara mempelajari kajian-kajian ilmu tentang dakwah.
Metode-metode dakwah dapat kita lihat di dalam firman Allah SWT:
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl [16]: 125).
Dari ayat di atas, tersurat 3 metode dakwah yakni:
a.       Hikmah (nasihat yang baik)
b.      Mau’izhah Hasanah (pelajaran yang baik)
c.       Mujadalah (bantahan yang baik)
Adapun bagaimana (how to) mempelajari ilmu dakwah maka dilakukan dengan pengkajian-pengkajian dengan sumber Al-Quran dan As-Sunnah.
Aksiologi Dakwah
Aksiologi yakni berbicara tentang “untuk apa” dakwah. Dapat diredusi menjadi urgensi dakwah dalam kehidupan. Adapun urgensinya antara lain:
a.       Psiko-etika teologis, yaitu meyakini ke-Maha Esa-an Allah SWT, tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah, meninggalkan syirik, meyakini Allah menurunkan wahyu, dan adanya kitab Allah SWT, melaksanakan syari’at Islam, mengimani adanya hari pembalasan, istiqamah mempertahankan keyakinan, melaksanakan kewajiban berdo’a, mengharap rahmat Allah, berdzikir dengan qalb, lisan dan perbuatan, berbuat ihsan, tawadhu, dan mengharap ridla Allah SWT.
b.      Psiko-etika intraindividu, yaitu mensyukuri nikmat akal dengan mengoptimalkan penggunaannya berupa kreatif-intelektual dan kreatif-intuitif, khusyu dalam shalat, menghindarkan penyakit keras hati, membersihkan dan mensucikan jiwa, menaati nasihat, beramal shaleh, dan lain sebagainya.
c.       Sosio-etika religius, yaitu tidak mengikuti berpikir paradoksial ala Yahudi, menegakkan perkara yang ma’ruf dan mencegah perkara yang munkar, menjauhi langkah-langkah syetan, menentang ajakan taklid buta, mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah warahmah, berijtihad di jalan Allah SWT, menjaga kemurnian tauhid, memperoleh ibrah dari sejarah, wajib meninggalkan rafats, fusuq, dan jidal yang tidak baik.[4]



[1] Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 68.
[2] Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 193.
[3] Enjang AS dan Aliyudin, Dasar-Dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Widya Padjadjaran, 2009), hlm. 9.
[4] Ibid., hlm. 25.

0 komentar:

Poskan Komentar