Sosiologi Dakwah "Strata Sosial"


Lapisan Masyarakat Dengan Dakwah
Seorang ahli filsafat Yunani bernama Aristoteles mengatakan bahwa di tiap-tiap negara terdapat 3 unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. Ucapan demikian itu sedikit banyaknya membuktikan bahwa di zaman itu, dan diduga pada zaman-zaman sebelumnya, orang telah mengakui adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.
Dari pernyataan Aristoteles, dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam masyarakat terdapat sistem sosial yang dinamakan dengan lapisan masyarakat atau stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial ini adakalanya yang membuat lahirnya kesenjangan sosial dikarenakan latar belakang ekonomi yang berbeda-beda.
Ekonomi yang tinggi merupakan konsekuensi logis dari etos kerja yang tinggi pula, ini pun didukung oleh faktor-faktor, salah satunya adalah faktor suku bangsa. Misalnya, orang yang notabene bersuku Jawa memiliki karakter kuat, tekun, ulet, tidak gengsian dalam bekerja. Lain lagi ceritanya dengan orang yang bersuku Sunda cenderung berkarakter pemalas, dan hanya ingin bersantai-santai saja, namun tidak seluruhnya orang Sunda memiliki kepribadian demikian.
Mengenai hal ini, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan dalam segala sesuatu, ia dipandang lebih baik. Raihlah apa yang memberikan manfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah. Janganlah lemah! Kalau engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata, ‘Kalau aku berbuat begini pasti begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Allah SWT telah menentukan dan Allah menghendaki aku untuk berbuat karena kata (kalau) akan mendorong pada perbuatan syetan.
Beranjak dari masalah ekonomi, orang-orang yang menduduki kursi pemerintahan bukanlah orang yang melarat melainkan yang memiliki harta melimpah namun tetap saja terdapat segelintir orang di kalangan mereka yang melakukan praktik KKN. Selanjutnya, masyarakat yang ekonominya di bawah rata-rata, sedikit banyaknya melakukan tindak kriminal seperti pencurian, penipuan undian, dan lain sebagainya. Adapun masyarakat yang berada di tengah-tengah bersikap netral dan menjauhi berbagai tindakan yang menimbulkan efek negatif. Namun tidak semuanya demikian.
Perlu di garis bawahi baik tidaknya seseorang atau masyarakat bukan ditentukan di lapisan mana ia berada, melainkan ditentukan dengan kepribadian Islamnya sehingga mampu memposisikan dirinya di hadapan Allah dan manusia lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar