Psikologi Sosial "Perilaku Agresi"


PERILAKU AGRESI

Definisi Agresi
Strickland (2001) mengemukakan bahwa perilaku agresi adalah setiap tindakan yang diniatkan untuk melukai, menyebabkan penderitaan, dan untuk merusak orang lain. Meskipun agresi sering dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat fisik, namun sebenarnya perilaku agresi yang ditujukan untuk memberikan kerugian secara psikologis dapat pula disebut sebagai perilaku agresi.[1]
Ada 3 hal yang perlu diketahui mengenai agresi, adalah sebagai berikut.
1.      Cara perilaku agresi diperoleh
2.      Ganjaran dan hukuman yang berhubungan dengan suatu perilaku agresi
3.      Faktor sosial dan lingkungan yang memudahkan timbulnya perilaku agresi
Perilaku agresi merupakan hasil dari interaksi dan banyak faktor, seperti pengalaman masa lalu individu yang berkenaan dengan perilaku agresi, jenis-jenis perilaku agresi yang mendapat ganjaran hukuman, dan variable lingkungan serta kognitif sosial yang menjadi penghambat atau fasilitator bagi timbulnya perilaku agresi.
Perilaku Agresi
Perilaku agresi dapat dipicu oleh rangsangan fisiologis yang berasal dari sumber-sumber yang netral atau sumber-sumber yang sama sekali tidak berhubungan dengan atribusi rangsangan agresi itu (Krahe, 1997).
Contoh dari perilaku agresi misalnya adalah frustasi. Ini cenderung menyebabkan perilaku agresi apabila frustasi itu oleh individu diinterpretasi sebagai gangguan terhadap aktivitas yang ingin dicapai oleh dirinya.
Perilaku agresi dapat dipengaruhi dari faktor keluarga, lingkungan, dan konflik batin yang timbul dalam dirinya.
Menangani Agresi
Perilaku agresi merupakan salah satu masalah sosial, ini perlu segera ditangani secara serius. Terdapat beberapa strategi untuk mengendalikan dan mengurangi prevalensi perilaku agresi. Strategi itu di antaranya:
1.      Strategi hukuman, yakni hukuman harus diberikan segera setelah perilaku agresi terjadi, besarnya tingkat hukuman harus setimpal, hukuman harus diberikan setiap kali perilaku agresi timbul.
2.      Strategi katarsis, yakni memberi kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan perilaku agresinya misalnya marah. Setelah melewati jangka waktu tertentu, marahnya mereda dan ia akan berfikir tentang orang yang sebelumnya menyebabkan marah atau terangsang melakukan perilaku agresi.
3.      Strategi pengenalan terhadap model nonagresi, yakni meredakan suasana yang berpotensi menimbulkan perilaku agresi ke arah yang lebih baik.
4.      Strategi pelatihan keterampilan sosial, yakni mengekspresikan atau mengkomunikasikan keinginan kepada orang lain.


[1] Dr. Fattah Hanurawan, Psikologi Sosial: Suatu Pengantar, (Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 80-81.

0 komentar:

Poskan Komentar